Sastra

Tokoh Novel Rahasia Salinem Karya Briliant Yotenega dan Wisnu Suryaning Adji

Diposting pada

Novel ini bercerita tentang Tyo, seorang yang ingin mencari tahu kehidupan yang dijalani oleh neneknya, Salinem, yang baru saja meninggal dunia. Berawal ketika Tyo menemukan Salinem bukanlah nenek kandungnya, tapi merupakan seorang abdi dalem keluarganya. Memiliki alur maju mundur, novel ini mengambil setting di Solo pada kisaran tahun 1923, tepatnya saat masa pendudukan Jepang di Indonesia, sampai tahun 2013. Masalah yang diceritakan muncul ketika keluarga besar keraton membahas tentang posisi Mbah Nem dalam pohon silsilah keluarga. Sehingga terbuka sebuah rahasia bahwa Mbah Nem bukanlah keluarga kandung mereka, melainkan hanya seorang pembantu. Tyo, salah satu cucu kesayangan Mbah Nem, terkejut mengetahui hal itu. Akhirnya ia mengetahui bahwa Mbah Nem adalah sahabat dari eyang kandungnya.

Rasa penasaran Tyo menjadi-jadi membuat ia menelusuri jejak Mbah Nem melalui tempat-tempat yang pernah disinggahinya dan dari rahasia masakan pecel Mbah Nem yang melegenda. Satu per satu tabir rahasia mulai terbuka. Tyo selalu bertanya-tanya, jika memang benar Mbah Nem hanyalah sahabat baik dari eyang kandungnya, lantas apa motivasi Mbah Nem untuk bertahan sampai satu abad lamanya dengan keluarga mereka hingga beliau sendiri tidak menikah dan memilih mengabdikan dirinya pada keluarga bangsawan tersebut.

Kisah pencarian jejak Salinem yang dilakukan oleh Tyo di tahun 2013, dan kisah kehidupan Salinem sendiri bersama sahabatnya di tahun 1923 membuat novel Rahasia Salinem cukup unik. Cerita yang dimiliki Salinem tentang persahabatan, cinta, sejarah hingga resep makanan legendaris semua ada di dalam cerita. Selain itu, kesederhanaan penggunaan gaya bahasa yang digunakan mampu menyambung benang merah antara masa silam dan masa sekarang secara indah.

Novel ini sebagian berisi dialog bahasa Jawa, tetapi memiliki penambahan catatan kaki yang mampu membantu para pembaca. Sebuah kata sepenggal yang cukup diingat dari novel ini adalah “jalani saja”, bahwa apapun masalah yang terjadi dalam hidup ini harus dihadapi dengan bagaimanapun cara dan keadaannya. Novel ini juga mengajarkan tentang tulusnya persahabatan yang tidak melihat perbedaan status dalam hubungan sosial. Salinem, Kartinah, dan Soeratmi tidak pernah membedakan dan menyembunyikan apapun antara satu dengan yang lainnya. Persahabatan dan cinta mengalir apa adanya bagi mereka yang mempercayainya.

Teknik Penokohan dan Perwatakan

Penokohan dan perwatakan merupakan sesuatu hal yang berkaitan. Novel ‘Rahasia Salinem’ ini memiliki tokoh di antara dua waktu karena alurnya adalah campuran. Bagaimana watak dan cara pandang pengarang kepada tokoh di antara dua waktu memiliki struktur yang kompleks karena saling berkaitan atau memiliki hubungan. Lebih lengkapnya akan diulas satu persatu mengenai penokohan dan perwatakan.

  • Salinem

Sosok penokohan Salinem dalam alur cerita yang campur, membuat penokohannya digambarkan pada dua waktu dimana setiap waktunya, Salinem memiliki ciri khas sebagai tokoh yang dilukis berbeda oleh pengarang. 

Diceritakan setelah meninggalnya Salinem tahun 2013, ketika cucu dan anaknya mencari tahu kebenaran Salinem di masa lalu. Salinem digambarkan sebagai sosok yang misterius, menyimpan banyak rahasia, yang hingga kematiannya, dia tetap berusaha menjaga apa yang sebenarnya sudah terjadi pada dirinya sendiri.

…Upacara pemakaman Mah Nem baru saja lewat. Sayangnya, Mbah Nem malah tumbuh jadi misteri… (2019:72)

Perjalanan cerita seusai kematian Salinem, tentunya berupa suatu kenangan. Salinem juga dikenal sebagai sosok yang keras kepala, ketika dia yang sakit sangat susah untuk berobat dengan dokter.

…”Sudah untung bisa tidur. Beberapa hari ini Mbah Nem rewel terus, ndak bisa tidur. Dibawa ke dokter, malah menolak.”

“Ndak dokternya saja yang disuruh kemari?”

“Sudah,” desah Bulik. “Malah diusir. Bulik sampai ndak enak.” Tapi, kamu tahu-lah Mbah Nem seperti apa. Susah. Sudah sakit begitu, masih saja merasa sehat.”

Di masa lalu, Salinem merupakan abdi dalem yang digambarkan setia, bahkan menganggap anak-anak Kartinah sudah seperti anaknya, yang dibesarkan hingga anak cucunya berkeluarga, Salinem hadir seperti orang tua sesungguhnya.

  • Tyo

Merupakan cucu pertama Salinem sekaligus digambarkan sebagai cucu tersayang neneknya Salinem, yang akrab dipanggil Mbah Nem. Semenjak kematian Mbah Nem, Tyo digambarkan sebagai sosok yang gigih ingin mencari tahu jejak Mbah Nem. Dari tempat-tempat yang pernah didatangi, hingga orang-orang yang pernah Mbah Nem temui.

  • Bulik Ning–Sasotya Uning

Bulik Ning adalah adik Bapak Tyo, dan diceritakan sebagai anak terakhir Kartinah, juga Salinem. Nama aslinya Sasotya Uning, dia yang merawat Salinem serta membersamai Tyo ketika mencari tahu masa lalu Salinem. Digambarkan sebagai sosok yang tulus merawat Salinem. Sebagai anak perempuan dari ketiga kakak laki-lakinya, Bulik Ning selalu dekat dengan Salinem, seperti urusan memasak, Uning-lah yang mencoba merawat resep pecel Salinem.

  • Bapak Tyo–Bambang Irawan

Adalah Bapak Tyo dan dianggap anak kedua Salinem. Sosoknya tidak sering muncul di cerita, tapi beberapa kali muncul sebagai sosok yang sabar, seorang pelukis yang dulunya hampir tidak dibolehkan oleh Kartinah, ibu kandungnya, tetapi Salinem tetap mendukungnya, hingga kini Bambang Irawan atau Bapak Tyo ini sangat menyayangi Salinem seperti saudara-saudaranya yang lain.

  • Salimun

Salimun adalah ayah Salinem, digambarkan sebagai sosok ayah yang tulus dan setia. Dia menjaga Salinem–meski Salinem harus dilempar dari tangan ke tangan lain–dan tidak menikah lagi semenjak Ibu Salinem meninggal setelah melahirkan Salinem. Sebagai kusir kuda keraton, yang harus bekerja ketika siang, lalu malamnya menjaga Salinem.

  • Daliyem

Sebagai adik ipar Salimun yang menjaga Salinem ketika kecil. Daliyem biasanya menjaga Salinem ketika dia berjualan di pasar pagi hari dan malamnya diambil oleh Salimun ketika sudah kembali dari keraton. Dia digambarkan sebagai sosok yang tulus merawat Salinem meski juga khawatir dengan Salinem nanti. Dia berpikir seharusnya Salinem memiliki ibu baru lagi, meski di sisi lain dia juga mengkhawatirkan kesetiaan Salimun yang dia harapkan tetap untuk kakaknya, yaitu Ibu Salinem yang sudah meninggal.

  • Giyo

Teman sepermainan Salinem, ketika Salinem kecil selalu di pasar bersama Daliyem. Bisa disebut sebagai cinta pertama Salinem, tapi mereka harus berpisah ketika Salinem yang pindah untuk mengikuti Kartinah dan Soekatmo.

  • Soekatmo & Kartinah

Orang tua kandung Bambang Irawan dan Sasotya Uning, atau kakek Tyo. Digambarkan sebagai orang tua yang pekerja keras, Kartinah sempat meminta Salinem untuk berhenti bekerja dengan mereka, karena sudah tidak mampu membayar Salinem. Akan tetapi Salinem sendiri yang memang selalu ingin bersama mereka terlebih memang ibu ayahnya sudah meninggal. Karena kebersamaan mereka semenjak muda, anak anak Soekatmo dan Kartinah tetap dijaga oleh Salinem ketika mereka sudah meninggal.

  • Soeratmi

Adalah adik Soekatmo, dan merupakan sahabat Salinem sejak kecil di keraton. Soeratmi digambarkan sebagai sosok teman yang baik dan tulus dengan Salinem. Mereka berpisah ketika Soeratmi sudah menikah, dan Salinem yang ikut dengan Soekatmo bersama Kartinah istrinya.

Motivasi Tokoh

Dalam novel ‘Rahasia Salinem’, para tokoh digambarkan dengan karakter dan tujuan masing-masing. Salinem sebagai tokoh utama, merupakan sosok yang tulus mengabdi menjadi abdi dalem keraton. Orang-orang dalam keraton dulu, juga tidak sungkan merawat Salinem kecil karena anak kecil itu kedua orang tuanya sudah meninggal. Sedangkan anak cucu Salinem, khususnya Tyo dibantu Bulik, Pak Lik, dan Bapaknya, mencari tahu jejak Salinem dahulu hingga menemukan tempat yang pernah Salinem singgahi dan berusaha merawat ingatan sebagai kenangan kebaikan Salinem.

Jenis Tokoh

Seperti judulnya ‘Rahasia Salinem’, yang mengangkat cerita Salinem sebagai tokoh utama, dilanjut Tyo yang sering muncul setelahnya. Salinem dan tokoh lain digambarkan sebagai tokoh protagonis, dan tokoh sederhana yang terkadang memberi kejutan dengan alur cerita yang berlatar dua waktu, yaitu dengan masa lalu.

Hubungan Tokoh dengan Elemen Fakta Cerita yang Lain

Keberadaan cerita yang terbagi dengan masa lalu, membuat cerita pada novel menjadi kompleks, dan berhubungan dengan waktu ke waktu. Kehadiran tokoh di cerita masa kini, memiliki hubungan erat dengan alasan-alasan dari cerita masa lalu. Sehingga, cerita menjadi runtut dan menarik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *